Showing posts with label aboutdream. Show all posts
Showing posts with label aboutdream. Show all posts

Sunday, July 29, 2012

rindu pada teras #batpoet



merindukan rindu yang bukan padamu saja tapi juga untuk dia, di tempat yang tiada bahaya, terbawa katakata ke sana, ke surga. 

rindu-rindu tanpa kata yang menguap semuanya. Langit tahu segalanya. 

Rindu pada doa-doa pada altar pelaminan yang diiringi arus pernikahan sungai suci dalam perjalanannya yang panjang.

Pada rindu yang sekeras batu, arus deras pun lelah mengikismu. Maka aku membungkusmu, dalam selimut waktu. 


#batpoet


Tuesday, July 3, 2012

purnama memerah dan wajahku berdarah



Purnama memerah dan wajahku berdarah. mengingatkanku pada malam-malam di mana aku terjamah, cintamu yang punah

Purnama memerah dan wajahku berdarah. tersayat-sayat amarah yang kembali basah. dan ingatan-ingatan ini akan tetap terasah

Purnama memerah dan wajahku berdarah. hitam kemerahan menahan gairah. membuncah! pecah!

Purnama memerah dan wajahku berdarah. bias-bias cincin di sekelilingnya seperti bunga merekah. seperti perawan desa sebelah.

Purnama memerah dan wajahku berdarah. merindukan genggaman tangan di sela-sela jari yang basah.


Wednesday, May 9, 2012

untitled poem


Pendar Purnama di balik malam gosong
Malam jatuh sunyi menyepi
celotehan alkohol menggelinjang ketika keringat menjadi manis
aku adalah pejuang kemerdekaan
kemerdekaan hati mendekati mati

serpihan kayu manis akan memberi rasa berbeda dalam cangkirmu
menukik dengan keras kepala
meresap sampai resahmu lenyap
keringatan tapi tetap berselimut wol tebal
mendendangkan lagu dengan ceria
menggairahkan tubuh untuk bergerak

kamu adalah apa yang kamu pikirkan
tidak seperti pelari...
berlari... berlari... berlari...
tapi tak mau henti, dia lari tanpa peluh
lalu dari mana asalnya muntahan berbau kelamin itu?

di situ, di balik rahasiamu...

aku tahu di tiap relungmu meskipun kamu termenung maupun terisak
dalam diam, ada jawaban tersimpan,
sebaiknya kamu telan...

kita mengumbar apapun kesiasiaan
rangkaian kata berubah menjadi selimut hangat
kabel telepn hanya tempat bertenggernya burung

pulang sore hari dengan belati
membelah hujan dengan payung
menanam rindu di ujung pintu

tiadakan rasa cemburu atau semuanya akan jadi belenggu
dan kebebasan menjadi semu...
menunggu satu...
lalu merindu...
dan satu adalah selalu...
menjadi perahu...
meski adalah rahasia...
tapi baik-baik saja...

jika kau dengar
pelan
tiap repat jemari yang kau petik
kesemuanya mengernyitkan aliran nada
sederas laju darah pada nadi
sepekat tetesan air mata di keningnya

tuhan hanya separo mengambil rusukku
sehingga aku hanya punya punya rasa
menyayangi, tidak mencintai.

rasa ini suci, sesuci pernikahan dua jiwa di alam mimpi.




yogyakarta, 7 Mei 2012
sebuah puisi berantai yang ditulis pada kertas yang diedarkan, oleh lima orang teman yang datang merayakan ulang tahun kekasih saya malam itu. 
tercipta sebuah puisi indah, lebih indah dari yang kami semua bayangkan.

Wednesday, May 2, 2012

fiksi tentang senja


hari kesatu 

seorang lelaki duduk di puncak bukit kala senja. sore itu mendung, jadi senja yang biasanya jingga dan ungu menjadi kelabu. tetapi lelaki itu menyukainya. ia mengagumi senja dari celah-celah kecil yang masih diberikan oleh awan kepada pecinta senja abu-abu. lelaki itu.

hari kedua 

seorang lelaki duduk di puncak bukit kala senja. bertahun-tahun ia menikmati seorang diri. pancaran sinar indah yang menjadi penanda dari matahari bahwa sinarnya harus terbagi dengan belahan dunia lainnya. lelaki itu menyukai suara dan aroma senja. hening dan aroma embun-embun malam yang akan datang merasuk ke otaknya. 

hari ketiga 

seorang lelaki duduk di puncak bukit kala senja. hari ini senja tidak berwarna kelabu. sore ini senja berwarna jingga dan ungu. seorang perempuan melintas dengan sepeda mini merah jambu. lelaki itu tertegun. perempuan itu tersenyum. “hari ini senja milikku”, ujarnya. lelaki itu membalasnya dengan senyum, “nikmatilah senjamu”. kemudian mereka berdua diam. menikmati senja dengan cara masing-masing. 

hari keempat 

seorang perempuan duduk di puncak bukit menunggu senja. ia lebih dulu datang. lelaki itu menyusul dengan basah kuyup. namun tersenyum puas. “hujan dan senja abu-abu. hari ini milikku. walaupun kamu datang lebih dulu”. ujarnya penuh kemenangan. perempuan itu cukup bahagia atas rintik-rintik hujan yang mengetuk kulit dan kepalanya. ia tersenyum sinis. “aku hanya ingin menikmati aroma hujan hari ini. aku tidak mencari senja”, kata perempuan itu. mereka kemudian diam dan menikmati hujan dengan cara masing-masing. 

hari ke lima 

seorang lelaki dan seorang perempuan berpapasan di jalanan menuju bukit tempat biasa mereka menikmati senja dengan cara mereka masing-masing. mereka saling melihat. lelaki itu bertanya, “bagaimana kamu menemukan bukit ini? sudah bertahun-tahun aku menikmatinya sendiri” dengan suara datar. “sepedaku yang membawaku ke sana. ia seperti menunjukkan arah ke tempat yang selama ini aku cari. sebuah tempat dimana aku bisa mengantarkan senja. sebuah tempat untukku melepas senja”. sambil terus berjalan menuju bukit, lelaki itu berkata “senjaku abu-abu”. perempuan itu tersenyum sambil menyahut, “senjaku jingga dan ungu! jadi kita tidak akan berebut senja, selalu!”, sambil menepuk pundak si lelaki. mereka meneruskan perjalanan hingga ke puncak bukit, kemudian melepas senja bersama. dengan cara mereka masing-masing. hari itu, senja berwarna merah jambu. 

hari ke enam 

seorang lelaki dan seorang perempuan duduk di puncak bukit kala senja. gerimis menemani keheningan mereka. “dengarkan suara rintik itu”, ujar si perempuan. “gerimis mengajak kita mendengarkan surga”, lanjutnya. “hiruplah aromanya!” , ujar si lelaki. “aroma tanah?”, tanya si perempuan. “hmmm, hujan selalu membawa bau laut kalau kau bisa menghirupnya lebih dalam”, terang si lelaki. “ini hanya bisa kita nikmati di sini. di kota, aroma hujan menimbulkan bau anyir bercampur tahi kuda dan aspal. padahal bumi bersemedi saat itu”, lanjutnya. perempuan ini diam, mencoba menghirup hujan lebih dalam, dan mencari bau laut yang katanya ada. langit mendung. “hari ini dia berwarna abu-abu, hari ini dia milikku”, kata lelaki itu. si perempuan hanya diam dan meikmati tetesan hujan, dan bau laut yang ia temukan.

hari ke tujuh. 

seorang lelaki dan seorang perempuan duduk di puncak bukit kala senja. hujan turun dari pagi hingga sore tadi. senja yang dilepas setelah hujan seharian akan sangat indah. warna jingga, ungu, biru, dan merah jambu berpaduan menjadi satu. “senja ini milikku”, perempuan ini tersenyum puas. “aku senang, bau tanah dari hujan masih tertinggal”, lanjutnya, dan memperlebar senyumnya. si lelaki juga berpikiran sama. ia masih dapat mencium aroma yang menenangkan jiwa itu. “aku berterima kasih pada Tuhan atas senja dan hujan hari ini. dan atas kamu, yang beberapa hari ini menemaniku mengantarkan senja pulang ke peraduannya.” mereka berdua tersenyum. “maukah kamu selalu menemaniku melepas senjaku?”

Wednesday, April 18, 2012

Bukan di Bumi, tempat kita melewatkan long weekend kali ini

Berkalikali kamu mengajakku terbang. Melihat Bumi dari awan. Tp tidak pernah aku raih kesempatan. Genggamanmu lepas di tengah perjalanan.

Aku memang bosan di Bumi, terkadang. Sebenarnya ia terlalu cantik untuk ditinggalkan.

Coba kamu lihat betapa deretan menghijau itu menenangkan. Tp memang, kita hanya bisa menikmatinya ketika liburan.

Kita tinggal di perkotaan. Di mana gedunggedung seperti menara, menjulang. Di mana kepulankepulan asap sangat menyesakkan.

Di mana mata tak lagi berpandangan. Semuanya! Hanya terlihat seperti keegoisan.

Kudakuda dan gajahgajah besi berlalulalang. Menelanjangi secara terusterusan, aspal hitam yang membentang.

Aku lelah, Sayang... Sedangkan sebentar lagi long weekend kembali datang. Kota ini pasti akan dilanda banjir bandang.

Sekarang saja mataku tak berani menyapu pandang pada jalananjalanan aspal yang kelelahan.

Dan kamu kembali menawarkanku untuk terbang ke awan. Bukan cuma sampai awan, sayang...

Aku mau ke Bulan. Aku sudah menyiapkan dua tiket untuk kita terbang.

Di Bulan ada kelincikelinci yang berbaris rapi menanam padi untuk mereka makan sendiri.

Kelincikelinci tidak akan mau mengimpor padi dari bumi. Padi-padi yang tercemar polusi.

Di Bulan, ada udara sejuk yg bs menenangkan hati. Setiap partikelnya bs kita gunakan utk membersihkan diri, sehingga kita tak akan mati.

Di Bulan, ada keluasan dan kesenyapan. Telinga dan mata kita bisa istirahat dari segala di Bumi yang mengancam. Mari bersiap terbang.

Bumi sudah terlalu jahat untuk kita kini. Lihat saja pada long weekend nanti.

Kotakkotak sabun raksasa akan mendatangi tempat yang menurut mereka pantas untuk memperkaya diri. Mereka tak sadar. Mereka merusak mimpi

Sayang, ayo kita pergi. Terbang ke Bulan malam ini. Jangan lupa bawakan aku pelukan dan kecupan untuk kita nanti.

Bukan di Bumi, tempat kita melewatkan long weekend kali ini... 

Yogyakarta, 5 April 2012

Saturday, August 6, 2011

KITA ADALAH BATU




di luar hidup sialmu
di luar sisi tubuhmu
di luar yang kausentuh, di luar hanya sepi, membisu.

di luar kisah sedihmu
di luar sesak napasmu
di luar yang kau buru
di luar igau mimpi burukmu

bernapas di celah waktu
dan ruang yang mencekikmu

karena kita adalah batu


setiap awal musim kita siapkan segelas rasa sakit dan kehilangan..

setiap awal musim kita siapkan semangkuk rasa perih dengan kebencian
kita kan terjaga selamanya
...selamanya...






photo taken from : http://www.flickr.com/photos/maslambang/

Friday, June 3, 2011

rumah masa depan




aku masih bisa membayangkan betapa menyenangkannya menghabiskan sisa umur jika kita bersama.

memiliki rumah yang terbuat dari box container yang kita beli, menumpuknya di tengah hutan, mendekor isinya dan membuat taman mengelilinginya.

dan aku masih berharap, suatu hari nanti kita bisa mengunjungi Nara, bersama.



Monday, April 4, 2011

sebuah fiksi tentang senja

hari kesatu

seorang lelaki duduk di puncak bukit kala senja. sore itu mendung, jadi senja yang biasanya jingga dan ungu menjadi kelabu. tetapi lelaki itu menyukainya. ia mengagumi senja dari celah-celah kecil yang masih diberikan oleh awan kepada pecinta senja abu-abu. lelaki itu.

hari kedua

seorang lelaki duduk di puncak bukit kala senja. bertahun-tahun ia menikmati seorang diri. pancaran sinar indah yang menjadi penanda dari matahari bahwa sinarnya harus terbagi dengan belahan dunia lainnya. lelaki itu menyukai suara dan aroma senja. hening dan aroma embun-embun malam yang akan datang merasuk ke otaknya.

hari ketiga

seorang lelaki duduk di puncak bukit kala senja. hari ini senja tidak berwarna kelabu. sore ini senja berwarna jingga dan ungu. seorang perempuan melintas dengan sepeda mini merah jambu. lelaki itu tertegun. perempuan itu tersenyum. “hari ini senja milikku”, ujarnya. lelaki itu membalasnya dengan senyum, “nikmatilah senjamu”. kemudian mereka berdua diam. menikmati senja dengan cara masing-masing.

hari keempat

seorang perempuan duduk di puncak bukit menunggu senja. ia lebih dulu datang. lelaki itu menyusul dengan basah kuyup. namun tersenyum puas. “hujan dan senja abu-abu. hari ini milikku. walaupun kamu datang lebih dulu”. ujarnya penuh kemenangan. perempuan itu cukup bahagia atas rintik-rintik hujan yang mengetuk kulit dan kepalanya. ia tersenyum sinis. “aku hanya ingin menikmati aroma hujan hari ini. aku tidak mencari senja”, kata perempuan itu. mereka kemudian diam dan menikmati hujan dengan cara masing-masing.

hari ke lima

seorang lelaki dan seorang perempuan berpapasan di jalanan menuju bukit tempat biasa mereka menikmati senja dengan cara mereka masing-masing. mereka saling melihat. lelaki itu bertanya, “bagaimana kamu menemukan bukit ini? sudah bertahun-tahun aku menikmatinya sendiri” dengan suara datar. “sepedaku yang membawaku ke sana. ia seperti menunjukkan arah ke tempat yang selama ini aku cari. sebuah tempat dimana aku bisa mengantarkan senja. sebuah tempat untukku melepas senja”. sambil terus berjalan menuju bukit, lelaki itu berkata “senjaku abu-abu”. perempuan itu tersenyum sambil menyahut, “senjaku jingga dan ungu! jadi kita tidak akan berebut senja, selalu!”, sambil menepuk pundak si lelaki. mereka meneruskan perjalanan hingga ke puncak bukit, kemudian melepas senja bersama. dengan cara mereka masing-masing. hari itu, senja berwarna merah jambu.

hari ke enam

seorang lelaki dan seorang perempuan duduk di puncak bukit kala senja. gerimis menemani keheningan mereka. “dengarkan suara rintik itu”, ujar si perempuan. “gerimis mengajak kita mendengarkan surga”, lanjutnya. “hiruplah aromanya!” , ujar si lelaki. “aroma tanah?”, tanya si perempuan. “hmmm, hujan selalu membawa bau laut kalau kau bisa menghirupnya lebih dalam”, terang si lelaki. “ini hanya bisa kita nikmati di sini. di kota, aroma hujan menimbulkan bau anyir bercampur tahi kuda dan aspal. padahal bumi bersemedi saat itu”, lanjutnya. perempuan ini diam, mencoba menghirup hujan lebih dalam, dan mencari bau laut yang katanya ada. langit mendung. “hari ini dia berwarna abu-abu, hari ini dia milikku”, kata lelaki itu. si perempuan hanya diam dan meikmati tetesan hujan, dan bau laut yang ia temukan.

hari ke tujuh.

seorang lelaki dan seorang perempuan duduk di puncak bukit kala senja. hujan turun dari pagi hingga sore tadi. senja yang dilepas setelah hujan seharian akan sangat indah. warna jingga, ungu, biru, dan merah jambu berpaduan menjadi satu. “senja ini milikku”, perempuan ini tersenyum puas. “aku senang, bau tanah dari hujan masih tertinggal”, lanjutnya, dan memperlebar senyumnya. si lelaki juga berpikiran sama. ia masih dapat mencium aroma yang menenangkan jiwa itu. “aku berterima kasih pada Tuhan atas senja dan hujan hari ini. dan atas kamu, yang beberapa hari ini menemaniku mengantarkan senja pulang ke peraduannya.” mereka berdua tersenyum.

“maukah kamu selalu menemaniku melepas senjaku?”

".............."


Monday, May 18, 2009

menghitung bintang

Lagi-lagi kamu menghitung bintang. Rutinitas yang kamu jalani tiap malam. Duduk di bawah cahaya bulan yang temaram, menunjuk-nunjuk. Bintang yang ini. Bintang yang itu. Lalu mulai kamu hitung. Sampai suatu hari kamu mengajukan pertanyaan, mengapa langit harus mendung? Aku jadi tak bisa menghitung bintang malam ini, ujarmu. Atau kadang kamu berujar akan ketidakberadaan bulan yang biasa menemani malammu. Bila malammu mendung, dan kamu tidak bisa menghitung bintang lagi, kamu boleh menghitung rasi bintang di dahiku.


Jakarta,18.05.09

jauh

duduk diam memandangimu yang berada di luar jarak pandang merekam lamunmu yang tak dapat kubaca, dan diammu yang tak dapat kuterka. seny...