Thursday, May 15, 2014

tersadar
betapa pekat terlalu rapat menjejak
dimanakah lapang
sebab rindu merekah akan pagi yang tenang

lalu aku pulang pada pelukan
memekar pada sepersekian detik kecupan



Monday, December 31, 2012

pada maghrib terakhir, kata-kata tanpa suara diterbangkan bersama semua ingatan yang membeku. kaku. seperti bibirmu saat kita pertama bertemu. dulu. ketika kamu diam dan kutancapkan paku pada kedua kakimu hingga kau tak dapat bergerak. tercengang. pada sinar yang datang bersamaan dengan tubuh bidadari. terang. mata-mata nyalang menatap ke arah reruntuhan kenangan.

dan kamu. masih saja tertunduk pada kakimu yang tertancap paku. memandangiku.

Saturday, November 24, 2012

tertipu cemburu dikelabuhi rindu pada malam dingin membiarkan detik demi detik berlalu merasuk ke sum-sum terdalam teriringi dentingan Oscar oleh Frau tentang sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa seperti yang pernah kita lewati berdua saat menyetubuhi embun pagi berebut dengan rumput yang haus sejuknya tetesan air bening itu.

aku benar-benar meindukanmu.

Tuesday, November 13, 2012

Frea...


Pada suatu pagi lelaki yang ia cintai menghujaninya dengan tikaman. Dengan segala kemampuan ia berusaha untuk berjalan pulang. nyeri di kepala membuat langkahnya makin terhuyung. Orang-orang mengira ia sedang mabuk. Tak ada yang menolongnya.

Frea, sedang berusaha bertahan.


Ia tersesat di hutan. Jatuh, terkapar saat berusaha menembus semak belukar. Peri-peri hutan bermunculan. Terheran melihat perempuan itu meringkuk, matanya terbuka, nanar. Tatapannya kosong. Air mata menetes dari sudut matanya.


Frea, mati rasa.


Salah satu dari mereka membenarkan posisi tidurnya. Membersihkan wajah dan badannya dari luka. Matanya tetap terbuka. Air masih mengalir dari sudutnya.


Frea, tak lagi tau apa itu cinta.


Mereka merawatnya. Hingga matanya dapat kembali berkedip walau tetap hampa. Tak ada yang berani bertanya.


Frea, tak ingin bicara.


Rintik hujan datang. Ia terbangunkan. Berusaha menopang badannya dan berdiri. Deras. Rintiknya makin keras. Tangisnya tersamarkan.


Frea, hujan akan menghapus semua.


Sebenarnya, ia lebih kuat daripada yang pernah ia kira.

Monday, November 12, 2012

On Melancho-Frea





Frea. rindu-rindunya sudah tak bisa terkata-kata.
Menelanjanginya seperti langit menelanjangi purnama yang baru dimulai malam ini.
Frea dan semangat patahnya sebab kini ia adalah lajang yang jalang.
Bujangan-bujangan bajingan melayangkan tamparan ke wajahnya, menyayat kulit mukanya agar orang-orang tak ingin menatapnya, atau bahkan muntah ketika melihatnya.


Tentang pagi yang Frea hirup bersama langkah kaki hari ini.
Jonsi menemaninya meditasi setelah semalaman Anamnesis menemani hingga terlelap menuju alam mimpi.
Melepas alas kaki dan menjejaki rumput basah yang disetubuhi embun pagi.
Ugoran Prasad yang pernah membuatnya mati berdiri sudah tidak bisa membakarnya seperti dulu lagi.
Maka Frea meminta hangat kepada matahari yang mulai meninggi perlahan dengan sangat hati-hati.
Kebangkitan harus kembali dia jelang sebab sudah dua ratus tahun api semangat yang dikobarkan dalam sekejap dipadamkan.
Kekuatan itu sehebat angin kencang yang disertai hujan dan petir menggelegar.
Frea takkan pernah lagi bisa berlari meskipun makian-makian mereka tak sepenuhnya melumpuhkan kekuatannya untuk berdiri.
Ia  hanya tak ingin lagi berlari. Itu saja.

Lama Gyurme meminta Frea untuk memejamkan mata dan merasakan semua energi.
Sebab Frea sudah tak bisa berkata lagi.
Untung saja kepala tidak mungkin bisa pecah sendiri.

Tentang Frea…
Ketika kesalahan menjadi takdirnya dan takdir merampas hidupnya.
Frea menyalahkan mata dan ketakutannya.
Frea menyalahkan telinganya sebab ia tak bisa mendengar lumpur-lumpur bersuara.

AvalokiteĊ›vara menyelamatkan Frea dengan tangan-tangannya.
Perlahan mengajak Frea berdiri, menyembuhkannya.
Frea mengikutinya terbang meskipun heran bagaimana mungkin dia bisa berdiri tanpa memijak bumi.
Bumi dan duniawi.

Dalam gulita, Frea meminta terang pada Amon Ra.
Cahaya kecil akhirnya membuatnya mengerti tentang rasa yang tak bisa lagi tersusun menjadi bahasa.
Sebab tak semua rasa dapat terselesaikan walau hanya sebatas makna.


Sometimes, some words are worth unspoken, and some feelings are worth hidden…

Hari ini berubah menjadi hologram.

Frea berangkat sekarang.
Melanjutkan terbangnya mengikuti AvalokiteĊ›vara.
Pada bibirnya tersirat bayangan senyum, sekelumit sisa kehidupan dalam tubuhnya yang merapuh…

Tak ada yang perlu dipersalahkan.
Termasuk dirimu, Frea…

Sunday, November 11, 2012

aku pulang...

delapanbelas jam perjalanan menuju kembali ke kota.
kota jahat yang sama sekali tak bersahabat.
memulai hari dengan polusi sama sekali bukan ide yang baik.
tapi sudahlah, sampah udara harus kuhadapi setiap hari untuk sementara ini.
lalu sakit kepala tidak mau pergi.
hinggap pada kepala dan berlari-lari.
berpindah ke sana-kemari.

aku sedang muak dengan jarak.
malam ini semesta menenangkanmu dengan arak.
arak mengelabuhimu.
katanya kamu punya kekasih yang tidak mencintaimu.

apa buktinya? kekasihmu mengejar, bertanya dengan gusar.
buktinya ia lebih memilih mempertahankan seleranya yang murahan ketimbang mendengarkan lagu-lagu yang kau ciptakan.

oh Semesta,
lalu kemana larinya semua peluh-peluh itu?

kemudian tentang ekor yang selalu kupancang

jika memang aku membuatmu terkekang maka lebih baik aku yang menghilang.
tenanglah.
kebebasanmu tidak akan terbang.

sebab aku sedang beranjak mengemasi serpihan-serpihan kemesraan dan menguburnya, lalu pulang...

Friday, November 9, 2012

sampaikan salamku pada hujan

sampaikan salamku pada hujan di sana, sayang...
biar dia melebur debu-debu yang mengepul saat tersapu
biar tetesnya meredakan semua lara di muka dunia
biar rintiknya menjadi irama yang melagu bagi mereka-mereka yang dirundung sendu

sampaikan salamku pada hujan di sana, sayang...
keriaanku di sini seperti mereka semua yang menyambut datangnya ia di sana
dan semua akar tanaman yang kehausan kembali menghirup basahnya tanah
minggu depan kita panen buahnya bersama

sampaikan salamku pada hujan di sana...
sampaikan terima kasihku atas petrichor yang ia datangkan...
aroma tanah basah yang kau hirup sekarang